Kamis, 15 November 2012

Si Hitam Manis Seger Yang Bikin Ngiler


Purworejo merupaka kabupaten yang memiliki banyak kekayaan diberbagai bidang. Walaupun tidak banyak yang tahu, sebenarnya banyak pahlawan bangsa yang berasal dari purworejo salah satunya adalah Jendral A. Yani. Di bidang pendidikan Purworejo memiliki Beberapa pergueuan tinggi dan sekolah unggulan (RSBI) yang salah satunya adalah SMK NEGERI 1 PURWOREJO yang merupakan sekolah kejuruan terbaik di Purworejo.

Dibidang pariwisata purworejo memiliki beberapa ikon pariwisata yang indah antara lain : pantai ketawang, pantai jati malang, Goa Seplawan, Curuk Muncar dan masih banyak lainnya.


Bagi penikmat kuliner, Purworejo juga menyuguhkan berbagai macam kuliner khas Purworejo yang tentunya akan menggoyang lidah anda. Salah satu minuman khas dari purworejo yang tentunya segar dan lezat adalah Si Hitam Manis “Dawet Hitam atau Dawet Ireng Khas Purworejo”. Dawet ini disebut ireng karena cendol yang dipakai warnanya tidak seperti umumnya dipakai, warna cendolnya ini adalah ireng (hitam) dengan juruh (kuah) gula merah dicampur santan. Berbeda dengan Dawet kebanyakan, dawet ireng cenderung maregi (bikin kenyang).

Sudah pernahkah anda  mencoba es dawet ireng?
Sebenarnya bagi warga yang berdomisili di Purworejo tentunya tak asing lagi dengan dawet ireng, minuman khas Purworejo, tapi jangan bayangkan akan mendapati minuman khas daerah Purworejo ini di sebuah restoran mewah. Dawet ireng akan banyak kita jumpai di daerah pinggiran jalan raya arah Purworejo-Kebumen. Dengan hanya memakai gubuk yang relatif kecil berukuran sekitar 4×5 meter, suasana yang berada di pinggir jalan dan tepi sawah-sawah akan menambah kenikmatan kita menyantap minuman “menggiurkan” ini. Kondisi lapak dawet ireng tersebut justru menjadi media pencitraan diri, ekspresi gaya hidup dan sarana katarsis bagi orang-orang kota yang suntuk diteror pekerjaan. Dawet Ireng mampu menggambarkan dengan jelas fenomena itu. Minuman ini tersebar luas dipinggir-pinggir jalan raya Purworejo terutama di pinggir jalan daerah Butuh dan Bayan. Rasanya yang sangat manis dan mengenyangkan merupakan ciri khas dari dawet ireng ini.Dawet ireng merupakan minuman berjenis dawet tetapi dengan cendol yang berwarna hitam legam. Kekhasan lain dari Dawet Ireng ini adalah adanya Gambar Wayang Semar dan Gareng di kedua sisi Gerobak pedagang.
Gambar Semar dan Gareng Di sisi kiri dan Kanan lapak Dawet
Proses pembuatannya sangat alami yaitu diolah dengan tangan dan tak menggunakan bahan pewarna kimia. Warna hitam untuk cendol dibuat dari daun padi kering (oman) yang dibakar sampai menjadi abu, kemudian abu dicampur dengan air dan menghasilkan warna hitam. Sedangkan cendolnya terbuat dari sagu atau tepung ketan hitam bukan dari tepung beras seperti cendol hijau biasa. Sedangkan pemanisnya tidak menggunakan pemanis kimia melainkan menggunakan pemanis alami yakni dari gula aren.
Dari ceritanya, konon dawet Ireng awal mulanya dipasarkan oleh Mbah Ahmad sekitar tahun 1950 di daerah sebelah timur jembatan butuh, Purworejo. Yang samoai sekarang masih terdapat kiosnya. Dawet Ireng sekarang ini ini sudah melanglang sampai ke luar purworejo antara lain daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta dan lain lain. Diberbagai daerah dawet ireng sering dipesan dalam jumlah besar misalnya untuk acara hajatan.

Dalam penyajiannya jumlah cendol ireng jauh lebih banyak dibanyik kuahnya (santan dan air gula aren), kemudian ditambah es, yang akan membuat kita segar dan kenyang!.

Peserta 11.999 orang Minum Dawet di Butuh, Purworejo
Pemerintah harus lebih giat mempromosikan Dawet Ireng di berbagai daerah sehingga kota Purworejo akan terkenal dengan Kulinernya yakni Dawet Ireng. Salah satu usaha yang dilakukan untuk mempopulerkan dawet ireng akhir-akhir ini adalah acara Minum Dawet Hitam yang diikuti 11.999 orang yang diselenggarakan di lapangan sepak bola kecamatan butuh beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 22 September 2012 dan memecahkan rekor muri.
           
Kali ini Purworejo mencatatkan diri di MURI setelah  jumlah peminum  tercatat 11.999 anak. Artinya, terjadi pemecahan rekor melampaui rekor MURI sebelumnya yang disandang Kabupaten Banjarnegara yang tercatat diikuti 9.104 peserta. Acara tersebut diselenggarakan Komite Pembangunan Gedung Sentra Pemuda (GSP) Tjokronegoro yang diketuai RM Abdullah. Kegiatan ini dihadiri perwakilan MURI Paulus Pangka SH, Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg, Ketua DPRD Yuli Hastuti, Camat Butuh Wahyu Jaka Setya, dan masyarakat Kecamatan Butuh yang dikenal sebagai sentra dawet ireng (hitam).

Dawet hitam merupakan minuman khas sekaligus ikon kuliner Kabupaten Purworejo yang berasal dari Desa Butuh. Acara itu diikuti para pejabat di lingkungan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD), jajaran Muspika, perangkat desa, serta ribuan siswa dari SD hingga SMA. Selain itu, para pemuda dari Karang Taruna serta masyarakat umum juga ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Pemecahan rekor MURI minum dawet hitam itu, menurut Pangka, teregistrasi di Muri dengan nomor 5590. Selesai dicatat, Paulus Pangka menyerahkan sertifikat Rekor MURI kepada Mahsun Zain. Sertifikat juga diberikan pada panitia Butuh Exkpo dan Ketua Komite GSP Tjokronegoro R M Abdullah.
"Pemecahan rekor MURI minum dawet sebelumnnya dipegang Kabupaten Banjarnegara. Untuk memecahkan rekor sebelumnnya, minimal 10 persen harus lebih tinggi dari jumlah peminum di Banjarnegara. Setelah kami hitung, jumlahnya mencapai 11.999 peminum," jelas Pangka.
Sebelumnya Pangka sempat bertanya kepada bupati, untuk dana minum dawet pemecahan rekor MURI ini dananya dari mana. Oleh bupati dijawab kalau dananya dari sponsor.Pemecahan rekor MURI minum dawet hitam didanai sponsor dan swadaya panitia, dan tidak menggunakan dana APBD. "Tidak menggunakan uang APBD, melainkan dari swadaya panitia dari sponsor," paparnya.
Bupati Purworejo Mhasun Zain mengatakan, dawet hitam khas Butuh akan dipatenkan. Ini menyusul Kambing Peranakan Ettawa dari Kaligesing dan kesenian tari Dolalak yang sudah dipatenkan lebih dulu.
"Kalau sudah dipatenkan tentu aman. Negara tetangga seperti Malaysia tidak akan mungkin bisa mencaplok kekayaan budaya kita," tegasnya.
Mahsun berharap, setelah pecahnya rekor MURI, dawet hitam Purworejo lebih berkembang dan bisa mengangkat ekonomi kerakyatan. Menurutnya, pemecahan rekor MURI tersebut sebagai upaya promosi lebih luas.
“Sebenarnya, sudah terkenal. Hanya upaya pemecahan rekor ini untuk lebih terkenal. Kan lebih bagus," katanya.
Peserta Fahrul Ulum Hasan, 11, siswa SD Lubang Kidul, Butuh mengaku, diirnya senang ikut minum dawet rame-rame.
"Rasanya manis dan terasa nikmat. Apalagi minumnya bersama-sama, terasa lebih enak," katanya polos.
Dawet hitam ini sudah ada tahun 1947 di Desa Butuh, Kecamatan Butuh, Purworejo. Minuman tradisional ini terbuat dari tepung sagu dan untuk pewarna dawet menggunakan pewarna alami omen (gagang padi-Red) yang dibakar. Caranya, tepung dimasak sekitar 30 menit. Setelah matang lalu ditiriskan untuk dicetak menjadi dawet. 
Dawet berwarna hitam karena omen dicampur santan dan sirup gula aren. Sebagai variasi, dawet bisa diminum dengan campuran potongan buah nangka, tape hijau, serta es.


Berikut akan saya paparka cara pembuatan ataupun resep dari Dawet Ireng Khas Purworejo Agar anda dapat membuatnya sendiri Di rumah. Sajikan dengan es untuk mendapat rasa segar dan lebih nikmat. resep minuman segarBerikut Resep dawet Ireng Komplit dan cara bikin nya:

BAHAN: 

BAHAN dawet:

  • 50 gram tepung sagu
  • 60 gram tepung beras
  • 600 ml air
  • 1 sendok teh garam
  • 1 1/2 sendok makan (3 gram) abu merang dan 50 ml air, dilarutkan, disaring
  • 1 sendok teh garam
  • 1/8 sendok teh pewarna hitam


BAHAN sirup:

  • 250 gram gula merah, disisir
  • 2 lembar daun pandan
  • 250 ml air
  • 1/4 sendok teh garam
  • 250 gram gula merah, disisir
  • 250 ml air
  • 2 lembar daun pandan
  • 3 buah nangka, dipotong-potong
  • 2 lembar daun pandan
  • 1/4 sendok teh garam


BAHAN KUAH SANTAN:

  • 500 ml santan dari 1/2 butir kelapa
  • 2 lembar daun pandan


BAHAN PELENGKAP:

  • 1/2 sendok teh garam
  • 1/2 sendok teh garam
  • 2 lembar daun pandan


CARA MEMBUAT:
  1. §  Sirup gula jawa: rebus semua bahan hingga mendidih dan gula larut. Saring. Sisihkan
  2. §  Santan: Campurkan santan dengan garam. Sisihkan.
  3. §  Larutkan tepung sagu dengan 1.5 lt air hingga rata. Bila perlu saring dengan kain. Sisihkan.
  4. §  Bakar merang hingga jadi abu, rendam dengan 1 lt air. Aduk hingga berwarna hitam. Saring dengan kain.
  5. §  Rebus larutan merang hingga mendekati mendidih. Sebelum mendidih masukkan adonan sagu. Aduk-aduk hingga jadi seperti bubur. Aduk konstan hingga matang.
  6. §  Siapkan baskom berisi air dingin, dan saringan/cetakan dawet. Panas-panas ambil bubur merang yang telah matang secukupnya. Taruh di cetakan, tekan dengan papan yang lebih kecil ukurannya dari diameter saringan. Biarkan bubur merang lolos lewat lubang-lubang kecil saringan tepat di air dingin. Lakukan hingga semua ‘tersaring’. Tiriskan.
  7. §  Penyajian: Ambil gelas saji, beri dawet hitam, es batu, tuangi santan dan sirup gula jawa. Sajikan.


            Selamat Mencoba!!!!

Dan bagi anda yang berada di luar kota, bila lewat Purworejo jangan lupa untuk mampir ke lapak-lapak pedagang Dawet Ireng yang tersebar disepanjang jalan di purworejo. Jika anda tidak mampir dijamin anda dibikin Ngiler!!!!!!!!



Minggu, 11 November 2012

10 NOVEMBER 1945-10 NOVEMBER 2012


Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.
Dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalah pahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali.
10 NOVEMBER 1945

Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA, di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.
Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.
Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.
Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ariKH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) shingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.
Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 - 2000 tentara.  Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

 Bung Tomo di Surabaya, salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. :

 “ Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati! ”
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!

               



                                 10 NOVEMBER 1945-10 NOVEMBER 2012